Featured

Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal-Usul. Tampilkan semua postingan

Asal Usul Gaya Rambut Mohawk

Mohawk adalah sejenis gaya rambut yang fenomenal, unik dan nyentrik karena sangat berbeda dengan penataan rambut pada umumnya. Gaya rambut ini pada umumnya memotong habis bagian sisi kiri dan kanan, kemudian menyisakan bagian tengahnya saja dari depan hingga kebelakang. Sekilas memang serupa dengan bentuk rambut kuda.

Mohawk sering di kaitkan juga dengan gaya rambut penduduk di lembah Mohawk di bagian utara kota New York Amerika Utara. Sebelumnya pernah juga ditemukan juga gaya rambut berjenis Mohawk di Yunani yang menggambarkan Scythian (seorang pejuang olahraga) pada masa 600 tahun SM. Meski demikian gaya rambut Mohawk yang sekarang popular cenderung disebutkan berasal dari Amerika.

Keadaan tersebut mengacu pada popularitas Mohawk yang menjadi icon khas untuk para Punkers (komunitas punk) yang ada di dunia. Dimana diyakini bahwa asal mula kelahiran Punk ada di Amerika yang di pelopori oleh group band Ramones. Meskipun gaya rambut Ramones tidak bergaya Mohawk, tapi kehadirannya memang menjadi inspirasi dari band punk berikutnya. Seperti Blink182 The exploited dan sex pistol. Karakter musik punk bertempo cepat dengan beat-beat yang menghentak. Ramones memang yang pertama kali meramu jenis musik tersebut.

Sampai skrg Mohawk masih terkait dengan gaya anak punk, tapi masih jadi bagian mainstream.
Biasanya Mohawk diiringi dengan sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, yang juga identik dengan punk..

sumber

Read more

Asal-usul Bahasa Indonesia

Asal-usul Bahasa Indonesia

Pravitasari/Fotokita.net

Bahasa Melayu diketahui sebagai akar dari lingua franca Indonesia. Sutan Takdir Alisjahbana, dalam bukunya Sedjarah Bahasa Indonesia, mengutarakan bahasa Melayu memiliki kekuatan untuk merangkul kepentingan bersama sehingga untuk dipakai di Nusantara.

Menurut Alisjahbana, persebarannya juga luas karena bahasa Melayu dihidupi oleh para pelaut pengembara dan saudagar yang merantau ke mana-mana. "Bahasa itu adalah bahasa perhubungan yang berabad-abad tumbuh di kalangan penduduk Asia Selatan," tulisnya. Faktor lain, bahasa Melayu adalah bahasa yang mudah dipelajari.

Pada era pemeritahan Belanda di Hindia, bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa resmi kedua dalam korespondensi dengan orang lokal . Persaingan antara bahasa Melayu dan bahasa Belanda pun semakin ketat. Gubernur Jenderal Roshussen mengusulkan bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah rakyat.

Meski demikian, ada pihak-pihak yang gigih menolak bahasa Melayu di Indonesia. Van der Chijs, seorang berkebangsaan Belanda, menyarankan supaya sekolah memfasilitasi ajaran bahasa Belanda. JH Abendanon yang saat itu Direktur Departemen Pengajaran, berhasil memasukkan bahasa Belanda ke dalam mata pelajaran wajib di sekolah rakyat dan sekolah pendidikan guru pada 1900.

Akhirnya persaingan bahasa ini nampak dimenangkan oleh bahasa Melayu. Bagaimanapun bahasa Belanda ternyata hanya dapat dikuasai oleh segelintir orang. Kemudian di Kongres Pemuda I tahun 1926, bahasa Melayu menjadi wacana untuk dikembangakan sebagai bahasa dan sastra Indonesia.

Pada Kongres Pemuda II 1928, diikrarkan bahasa persatuan Indonesia dalam Sumpah Pemuda. James Sneddon, penulis The Indonesia Language: Its History and Role in Modern Society terbitan UNSW Press, Australia mencatat pula kalau butir-butir Sumpah Pemuda tersebut merupakan bahasa Melayu Tinggi. Sneddon menganalisis dari penggunakan kata 'kami', 'putera', 'puteri', serta prefiks atau awalan men-.

20 Oktober 1942, didirikan Komisi Bahasa Indonesia yang bertugas menyusun tata bahasa normatif, menentukan kata-kata umum dan istilah modern. Pada 1966, selepas perpindahan kekuasaan ke tangan pemerintah Orde Baru, terbentuk Lembaga Bahasa dan Budaya di bawah naungan Departemen Pendidikan Kebudayaan. Lembaga ini berganti nama menjadi Lembaga Bahasa Nasional pada 1969, dan sekarang berkembang dengan nama yang dikenal, Pusat Bahasa.

Tanggung jawab kerja Pusat Bahasa antara lain meningkatkan mutu bahasa, sarana, serta kepedulian masyarakat terhadap bahasa. (sumber nationalgeographic.co.id )
Read more

Kisah di Balik Warna Biru dan Merah Muda



Pernahkah terpikir oleh Anda mengapa barang anak perempuan cenderung berwarna merah muda dan anak laki-laki cenderung berwarna biru? Ternyata ada cerita sejarah di balik dua warna tersebut.

Sebelum abad ke-19, ditentukan bahwa gender tidak menentukan warna pada pakaian anak-anak. Anak perempuan dan laki-laki berusia kurang dari enam tahun pun, hanya dapat memakai pakaian berwarna putih. Alasannya, hanya demi kepraktisan.

Seperti dilansir dari Shine, menurut Jo B. Paoletti, sejarawan dari Universitas Maryland dan penulis buku "Pink and Blue: Telling the Girls From the Boys in America", penentuan warna untuk anak laki-laki dan perempuan awalnya, tidak spesifik.

Gagasan bahwa warna dapat membentuk kepribadian anak sesuai dengan gender muncul tepatnya sebelum Perang Dunia I. Pada artikel Ladies Home Journal yang terbit pada Juni 1918, warna merah muda dianggap sebagai warna yang lebih kuat dibanding biru.

Oleh sebab itu, anak laki-laki dianggap lebih cocok menggunakan warna tersebut. Sedangkan, anak perempuan menggunakan warna biru karena dianggap lebih cantik dan feminin pada saat itu.

Sumber lain mengatakan bahwa warna biru sangat cocok untuk digunakan oleh anak berambut pirang, dan warna merah muda bagus untuk anak berambut coklat. Atau, biru untuk anak bermata biru dan merah muda untuk anak bermata coklat.

Pada 1927, majalah Time mencetak grafik yang menunjukkan warna yang tepat sesuai jenis kelamin menurut toko-toko terkemuka di Amerika Serikat. Banyak toko pakaian anak terkemuka yang menjual pakaian anak dengan warna yang biru untuk perempuan dan merah muda untuk laki-laki seperti Filane di Boston, Best & Co di New York, Halle di Cleveland, dan Marshal Field di Chicago.

Baru sejak tahun 40-an, pabrik pakaian anak memutuskan untuk membuat pakaian warna merah muda untuk anak perempuan dan biru untuk warna laki-laki. Karenanya, anak-anak yang lahir setelah Perang Dunia II dibesarkan dengan kedua warna tersebut.

Sejarah merah mudah dan biru tidak sampai di situ. Menurut Paoletti, penggunaan pakaian warna pink untuk perempuan sempat berhenti karena gerakan pembebasan perempuan sehingga warna baju uniseks menjadi trenpada tahun 60-an hingga 70-an. Namun, tren biru dan merah muda kembali pada pertengahan 80-an seiring dengan perkembangan uji pra kelahiran.

Ketika orang tua mengetahui mereka akan memiliki anak laki-laki atau perempuan, mereka mempersiapkan warna pakaian bayi mereka sesuai dengan warna yang 'tepat'. Akhirnya, para produsen pun terdorong untuk memproduksi segala macam jenis kebutuhan bayi dengan dua warna tersebut, hingga saat ini.

sumber : Vivanews
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 
© Noblogandi | Design by Blog template in collaboration with Concert Tickets, and Menopause symptoms
Powered by Blogger